Beberapa hari yang lalu, tepatnaya tanggal 6 Desember mahasiswa Sistem Informasi ITS 2011 melakukan kunjungan ke sebuah panti sosial. Panti tersebut khusus menampung psikotik, gelandangan dan pengemis (gepeng) dan mantan WTS. Tujuan kompetensi kali ini memang untuk membangun rasa empati terhadap lingkungan sekitar sebagai salah satu kompetensi dasar mata kuliah Keterampilan Interpersonal (KI).
Setelah sempat diguyur hujan yang cukup deras, kami akhirnya bertemu dengan para penghuni panti. Panti tersebut terletak di daerah Keputih. Bangunannya cukup luas, tetapi tidak cukup luas ketika harus menampung sekitar sembilan ratus orang. Miris sekali ketika saya mendengarnya, apalagi sebelumnya Bu Ninda (pengajar KI) sempat memberitahukan bahwa jumah penghuni tersebut tahun lalu kurang lebih hanya setengahnya. Saya menyimpulkan bahwa semakin tua usia Indonesia, semakin berat beban yang dihadapai penduduknya sehingga semakin banyak orang yang kurang beruntung seperti para penghuni panti ini.
Seperti biasa, kami membentuk kelompok-kelompok yang nantinya akan berdampingan denga beberapa penghuni panti. Sesi pertama kami melakukan permainan "Lempar Bola". Permainan ini bertujuan mengenal lebih jauh orang-orang dalam kelompok tersebut. Di kelompokku ada Ibu Eva, Ibu Indah dan satu lagi ibu yang saya lupa namanya (maaf bu...). Setelah melakukan permainan ini saya baru mengetahui bahwa memang kondisi kami sangatlah berbeda.
Lanjut pada sesi sharing atau curhat. Disini dibentuk kelompok-kelompok yang lebih kecil agar kedekatan kami dengan penghuni panti bisa lebih intens. Awalnya aku dan teman-temanku meminta Ibu Indah untuk menceritakan penyebab dia masuk ke panti tersebut. Tetapi karena kondisi mental yang berbeda itulah membuat Ibu Indah tidak mampu menjawab pertanyaan kami. Saya mulai tersentuh saat akhirnya beliau mau berbicara. Dia menceritakan kalau dia diusir oleh keluarganya dan membuat dia terlantar dan akhirnya sampai di panti tersebut. Ibu Indah pun bercerita kalau dia sempat menikah tetapi suaminya pergi meninggalkan dia. Menurut saya itu merupakan salah satu penyebab Ibu Indah ada di panti tersebut walaupun dia tidak secara langsung mengatakannya. Mungkin saya bukanlah orang yang benar-benar tersentuh dengan kondisi Ibu Indah karena beliau tidak mampu menjawab apa yang saya tanyakan bersama dengan teman-teman saya dengan "nyambung". Tetapi melihat kondisi penghuni lainnya, bahkan ada remaja putri yang mungkin lebih muda daripada saya harus menanggung beban hidup yang berat karena sebelumnya sempat menjadi WTS. Tidak terbayang rasanya jika saya harus dihadapkan dengan situasi yang seperti mereka hadapi.
Kami mengakhiri kunjungan kami dengan memberikan sebuah persembahan sederhana, yaitu menyanyikan lagu "Laskar Pelangi" secara bersama-sama. Yang membuat saya terharu adapula penghuni panti yang mau memberikan persembahannya untuk kami, yaitu sebuah nyanyian yang menurut saya itu adalah curahan hati beliau. Bahkan ada beberapa teman saya menangis karena terharu.
Pengalaman ini adalah yang pertama dan amat berkesan buat saya. Semoga suatu saat nanti saya bisa berkontribusi lebih untuk mengurangi beban hidup orang-orang seperti mereka.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar