Baru-baru ini saya mendengar sebuah berita bahwa kota asal saya mendapat predikat negatif. Walaupun tidak dilahirkan di Depok, tetapi sudah enam setengah tahun saya tinggal di kota tersebut dan hal itu cukup membuat saya merasa sebagai warganya. Miris sekali mendengarnya.
Setahu saya Depok dipimpin oleh seorang yang berasal dari "partai Islam" dan saya berpikiran positif kalau pemerintahannya bisa jauh dari korupsi. Tetapi kenyataan berkata lain. Hasil survey KPK menunjukkan perolehan nilai untuk Pemkot Depok 3,50 menyandang predikat terburuk jauh dari nilai rata-rata 6,00, dengan parameter Indeks Integritas Daerah, terhadap pelayanan perizinan khususnya Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), IMB, dan KTP.. Menurut KPK, dalam pelayanan izin dan KTP Pemkot Depok belum transparan, sehingga berpotensi menumbuhkan tindak pidana korupsi, dan penyalahgunaan wewenang maupun gratifikasi.
Miris memang, korupsi seolah telah menjalar ke dalam seluruh aspek kehidupan di Indonesia. Bahkan di kota kecil seperti Depok pun korupsi telah amat berakar. Saya sendiri sebagai warga Depok, yang juga memiliki KTP Depok merasa Depok bukanlah kota yang makmur. Hal ini terlihat dari sangat sedikitnya jalan dua arah yang menyebabkan Depok rentan kemacetan. Saya merasakan, jika ingin sampai ke tempat tujuan pada pagi hari, maka kita harus berangkat 1-2 jam sebelumnya untuk menghindari kemacetan. Belum lagi angkutan kota yang tidak teratur dan menurut saya jumlahnya sudah overload. Birokrasinya pun lumayan berbelit-belit.
Saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan kota saya sendiri, tulisan ini adalah salah satu bentuk keprihatinan saya terhadap kota tercinta. Walau bagaimanapun Depok masih memiliki sisi positif, salah satunya tarbiyah Islam menurut saya sangat berjalan di kota ini. Mungkin hal ini disebabkan lumayan banyak kaum intelek di Depok yang berasal dari kampus UI maupun sekolah-sekolah negri maupun Islam di Kota Depok. Tetapi mengapa nilai-nilai Islam masih belum ditegakkan di kota ini? Mungkin ini menjadi bahan evaluasi kita bersama, terutama para aktivis dakwah agar kondisi Depok tidak semakin parah. Maunya tarbiyah itu sampai kepada para wakil rakyat agar korupsi tidak lagi terjadi.
Saya sebagai warga Depok yang saat ini tengah bersekolah di Surabaya baru bisa mengirimkan doa agar korupsi di kota asalku dapat teratasi. Semoga semakin banyak pemimpin yang sadar bahwa korupsi adalah tindakan yang amat sangat tercela lagi merugikan banyak orang. Mungkin mereka bisa memperkaya diri sendiri, tetapi apakah mereka tidak ingin rakyat miskin semakin berkurang jumlahnya. Apakah mereka tidak menginginkan melihat pembangunan gedung-gedung dan fasilitas umum semakin menjamur sehingga rakyat bisa lebih makmur. Saya kembalikan lagi kepada para pemimpin agar mereka mau introspeksi dan memperbaiki moral karena mereka adalah khalifah di muka bumi ini. Tanggung jawab mereka di akhirat nanti amatlah besar karena nasib rakyat ada pada tangan mereka.
Allahu alam bishawab...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar